Pintu Doa

Oleh : adminaba

Pada masa Bani Israel, ada suami istri yang berdoa kepada Allah Swt. Mereka memohon agar segera diberi momongan. Namun, sampai tahun kelima pernikahannya, tanda-tanda kehamilan tak tampak pada sang istri. Sang suami merasa Allah telah jauh darinya sehingga tidak mau mendengar dan mengabulkan doa-doanya. Kebetulan, siang harinya, Khalifah Ali bin Abi Thalib tengah berkhotbah di masjid.

Ya Amirul Mukminin, mengapa doa kami tidak diijabah, sedangkan Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an bahwa ‘ud’uuni astajib lakum’ (berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-kabulkan doamu)?”
Mendengar pengaduan yang demikian, Ali bin Abi Thalib pun balik bertanya kepada orang tersebut, “Apakah sudah kaujaga pintu-pintu doamu?”

“Aku tidak mengerti maksudmu, wahai Amirul Mukminin.”

“Apakah sudah kaujaga pintu doamu dengan melaksanakan kewajibanmu sebagai hamba-Nya? Kau beriman kepada Allah, tetapi tidak melaksanakan kewajibanmu kepada-Nya?

“Apakah kaujaga pintu doamu dengan beriman kepada Rasulullah? Kau beriman kepada rasul-Nya, tetapi kau menentang sunah dan mematikan syari’atnya.

“Apakah kau sudah menjaga pintu doamu dengan mengamalkan ayat-ayat Al-Qur’an yang kaubaca itu? Ataukah kau belum juga sadar tatkala mengaku takut kepada neraka, tetapi kau justru mengantarkan dirimu sendiri ke neraka dengan maksiat dan perbuatan sia-sia? Ketika kau menginginkan surga, sebaliknya kaulakukan hal-hal yang dapat menjauhkanmu dari surga,” tanya Ali bin Abi Thalib bertubi-tubi. “Apakah kau telah menjaga pintu doamu dengan bersyukur kepada-Nya saat Dia memberimu kenikmatan? Sudahkah kau memusuhi setan atau malah sebaliknya kau bersahabat dengan setan? Apakah kau pernah menjaga pintu doamu dari menjauhi mencela dan menghina orang lain?” lanjut Ali bin Abi Thalib.

Si pria diam membisu, mendengar pertanyaan Ali bin Abi Thalib yang bertubi-tubi.

“Bagaimana doa seorang hamba akan diterima, sementara kau tidak menjaga, bahkan menutup pintu doa tersebut? Bertakwalah kepada Allah, perbaikilah amalanmu, ikhlaskanlah batinmu, lalu keijakanlah amar makruf nahi munkar. Insya Allah, Dia akan segera mengabulkan doa-doamu itu,” kata sang Khalifah.

“Diijabah atau tidaknya doa seorang Muslim,
sesungguhnya bergantung pada dirinya sendiri.”

——————————————————-
Sumber : Kolom Abatasa.com
——————————————————-

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on December 1, 2012, in Hikmah and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: