Bertambah Kaya, Sehat dan Cerdas dengan Shalat Dhuha (Bag. 4)

Bertambah Kaya, Sehat dan Cerdas dengan Shalat Dhuha

Jika kita awali atifitas dengan kepasrahan akan ketentuan Allah, selain hati kita menjadi lebih tenang, kita juga menjadi lebih bersemangat dalam bekerja, karena Allah akan senantiasa mengawasi dan menaungi dengan rahmat dan kasih sayang-Nya. Biasanya banyak agenda atau jadwal yang akan kita lakukan sehari penuh. Nah, jika ada agenda yang tidak terealisir, atau mendapatkan hasil tidak sesuai harapan, maka tidak lantas hati menjadi ciut, tidak bersemangat, bahkan berburuk sangka kepada Allah. Bahkan sebaliknya, kita harus introspeksi dan evaluasi terhadap kinerja kita, apa yang salah kita perbaiki, yang kurang kita maksimalkan. Walhasil, mudah-mudahan kita seperti seekor burung yang “pasti” memperoleh rezeki dan usaha yang “tidak pasti”. Bukankah kita punya usaha dan agenda yang pasti? Allahu a’lam

Kita juga dapat menunaikan shalat Dhuha ditengah-tengah aktifitas bekerja. Kira-kira yang jam 10-11. Anak-anak sekolah biasanya istirahat ± 20 menit mulai jam 10.00 WIB. Nah, waktu istirahat ini dapat dipergunakan oleh para guru atau murid untuk shalat Dhuha. Mengadu kepada Allah, memasrahkan egalanya kepada Allah, dan meminta petunjuk dan pertolongan Allah agar dapat bekerja dan belajar maksimal. Sehingga transfer ilmu dari guru kepada anak murid menjadi lebih optimal.

Mari kita hayati prinsip tawakkal yang terkandung dalam doa shalat Dhuha. Arti doa shalat Dhuha adalah;

Ya Allah, sungguh waktu Dhuha adalah waktu Dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adlah kekuatan-Mu, kekuasaan adalah kekuasaan-Mu, penjagaan adalah penjagaan-Mu.

Ya Allah, jika rezekiku masih di atas langit maka turunkanlah, jika ada di dalam bumi maka keluarkanlah, jika sukar maka mudahkanlah, jika haram maka sucikanlah, jika masih jauh maka dekatkanlah, berkat waktu Dhuha-Mu, keindahan-Mu, kekuatan-Mu, dan kekuasaan-Mu. Limpahkanlah kepadaku karunia sebagaimana yang Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang saleh.

Ada dua point yang dapat kita cerna dari untaian doa yang kit abaca sesudah shalat Dhuha tersebut.

Pertama, pengakuan akan kebesaran Allah, bahwa Dia pemilik segalanya, waktu Dhuha, kekuatan, kekuasaan, dan penjagaan. Keyakinan ini akan menjauhkan kita dari sikap arogan dan sombong karena dilatarbelakangi pandangan “Qaruniah” (bahwa yang diperoleh berkat kerja keras dan kemampuan diri belaka). Sehingga jika kita berhasil dalam usaha, pada hakekatnya adalah berkat pertolongan Allah. Walhasil kita akan menjadi hamba-Nya yang pandai bersyukur atas karuniadan rezeki yang kita peroleh. Jika kita pandai bersyukur, maka Allah akan menambah nikmat dan anugerah-Nya.

Kedua, adaya ketergantungan yang besar kepada Sang Maha Pemilik rezeki, sehingga kita tidak melupakan “peran” Allah dalam keberhasilan usaha kita. Dalam doa kita berseru;

Ya Allah, jika rezekiku masih di atas langit maka turunkanlah, jika ada di dalam bumi maka keluarkanlah, jika sukar maka mudahkanlah, jika haram maka sucikanlah, jika masih jauh maka dekatkanlah, berkat waktu dhuha-Mu, keagungan-Mu, keindahan-Mu, kekuatan-Mu, kekuasaan-Mu. Limpahkanlah kepadaku karunia yang Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang saleh.

Sebuah untaian doa yang sarat makna dan demikian puitis. Doa yang kita lantunkan adalah wujud ketergantungan kita kepada Allah. Bahwa kita yang lemah ini, yang tidak memahami hakekat ini, bergantung dan meminta pertolongan Allah.

Doa adalah ruh ibadah, dan salah satu bentuk ibadah adalah bekerja dan berusaha. Untuk itu da ibarat “nutrisi” atau “supplement” yang akan menyupport kita ketika lemah dan letih bekerja. Ketika keinginan belum tercapai, dan ketika cita-cita terbentur tembok penghalang. Bekerja tanpa diiringi doa adalah sombong, dan doa tanpa usaha adalah omong kosong. Allah berfirman dala sebuah hadits Qudsi;

Aku menurut prasangka hamba-Ku kepada-Ku. Aku bersamanya ketika dia mengingat-Ku. Apabila dia mengingat Aku dalam dirinya, niscaya Aku juga akan mengingatnya dalam dalam diri-Ku. Apabila dia mengingat-Ku dalam suatu kaum, niscaya Aku juga akan mengingatnya dalam suatu kaum yang lebih baik dari mereka. Apabila dia mendekati-Ku sejengkal, niscaya Aku akan mendekatinya sehasta. Apabila dia mendekati sehasta, niscaya Aku akan mendekatinya sedepa. Apabila dia dating kepada-Ku dengan berjalan, niscaya Aku akan dating kepadanya dengan berlari.” (Shahih Bukhari, Kitab at Tauhid: 6856).

Sabda Rasulullah SAW;

yang artinya: ”Janganlah sampai seseorang diantara kalian mati, kecuali dalam keadaan berbaik sangka kepada Alah.” (HR. Muslim dari Jabir)

Mari kita bekerja diiringi doa dan tawakkal kepada Allah, serta berbaik sangka kepada-Nya. Semoga kita eperti burung yang memperoleh hasil “pasti” dari usaha yang belum “pasti”. Dan salah satu bentuk tawakkal sebagaimana dijelaskan oleh Ibnu Qayyim dalam kitab Madarij as-Saalikin adalah berbaik sangka kepada Allah.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

4. Shalat Dhuha
dan Usaha Mencari Kekayaan

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

A. Hidup Harus Kaya
Rasulullah SAW bersabda;

yang artinya: ”Tangan di atas lebh mulia daripada tangan di bawah.”

Semua orang ingin kaya. Karena jika kaya, keinginan bisa tercapai. Mau mobil bagus tinggal beli, mau rumah mewah, tinggal ia bangun. Mau pakaian dan perhiasan mahal, bisa ia pesan dengan mudah. Dengan kekayaan seseorang juga bisa membantu sesama. Membantu anak yatim yang terlantar. Menolong orang miskin dan yang kesulitan. Serta membantu membangun fasilitas umum.

Namun tidak semua orang kaya baik. Malah sebaliknya, ia sombong, angkuh, tidak mau menolong sesama, dan egois.

Kekayaan materi yang baik adalah harta yang didapat dengan jalan yang baik dan digunakan dengan cara yang baik pula. Seperti untuk mencukupi kebutuhan rumah tangga, menolong sesama, membangun fasilitas umum, dan lain-lain. Tapi yang perlu dilihat adalah bahwa kaya bukan sekedar harta, namun dapat berupa;

Kaya ilmu. Dengan ilmunya seseorang dapat mengajari umat ilmu pengetahuan yang bermanfaat, serta perkara kebaikan dan takwa. Maka ia akan mendapat pahala dari usahanya itu. Ilmu yang bermanfaat akan terus mengalir pahalanya walau yang bersangkutan telah meninggal.

Kaya hati dan akhlak. Seperti sabar, penyayang, tidak sombong, suka menolong sesama, santun dalam berkata dan berbuat. Akhlak mulia ini adalah modal utama seseorang meraih kebahagiaan dunia dan akhirat.

Kaya harta. Inilah kekayaan yang sering menjadi tolak ukur. Padahal bukan sebenarnya kaya. Kaya sebenarnya adalah kaya hati dan akhlak. Namun kekayaan ini juga penting. Membangun masjid butuh dana, berjihad butuh dana, menyantuni anak yatim dan orang miskin perlu dana. Pendek kata perjuangan dan kebaikan tidak terlepas dari kekayaan harta.

Kekayaan harta yang dikelola dengan baik dan penuh tanggung jawab akan mendatangkan kebahagiaan bagi diri sendiri dan orang lain. Namun jika tidak, maka keburukan dan musibah bagi diri dan orang lain pula. Maka dari itu, perlu pula diiringi kekayaan harta dengan kekayaan hati dan akhlak yang mulia. Agar harta dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Mengapa hidup harus kaya?
Mengapa kita harus hidup kaya, atau mngapa kita harus mencari kekayaan? Karena dengan kekayaan kita dapat melakukan hal-hal kebaikan yang tidak mungkin dilakukan oleh orang yang tidak kaya. Misalnya;

Membantu orang lain. Bukankah Rasulullah bersabda: ”Tangan di atas lebih baik daripada tangan di bawah? Ini artinya, memberi dan menolong lebih baik daripada menerima dan ditolong.

Dengan kekayaan, seseorang akan terhindar dari sikap meminta-minta, dihina dan dicemooh.

Rasulullah bersabda; Kefakiran dekat kepada kekufuran. Banyak orang yang menjual iman, harga diri, dan kehormatan dengan materi, karena tidak tahan dengan kesulitan ekonomi, seseorang rela menukar iman dan kehormatan dengan materi yang tidak seberapa. Orang yang kaya dan bijak akan terhindar dari hal semacam itu.

Allah sangat sayang kepada orang kaya yang dermawan. Dan sangat membenci orang miskin yang sombong. Dengan kekayaan, maka seseorang dapat menjadi kekasih Allah, asal ia pergunakan hartanya dengan sebaik-bakinya.

Islam mulia dan diperjuangkan dengan harta. Sejarah mencatat, para sahabat Nabi adalah orang-orang pekerja keras dan kaya, yang dengan kekayaannya itu, mereka membantu Rasulullah berjuang menegakkan Islam. Seperti Abu Bakar, Umar, Utsman, Ali, Abu Sufyan, Abdurrahman, dan lain-lian.

Jadi kita harus kaya, untuk kemuliaan diri dan Islam. Kita wajib kaya, untuk membahagiakan diri dan orang lain. Tidak sekedar kaya harta, namun kaya ilmu, akhlak dan iman. Rasulullah SAW bersabda;

yang artinya: Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disenangi Allah daripada mukmin yang lemah.

B. Memahami Hakekat Kaya
Kaya menurut kebanyakan orang biasanya untuk menyebut orang yang banyak harta, rumah mentereng, mobil mewah. Pendek kata hidup bergelimang harta dan kemewahan. Memang kecenderungan manusia dalam hidup adalah berlomba-lomba mengeruk kekayaan, meraih materi yang melimpah, mencari kedudukan yang setinggi-tinginya, dan meniti karir tiada henti. Sebagaiamana digambarkan oleh Allah SWT dalam Al-Qur’an:

yang artinya: Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, naka-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14)

Apabila dalam kehidupan yang serba canggih ini pikiran manusia tentang kesuksesan dan kekayaan telah melenceng jauh dari hakekat kehidupan dan kekayaan itu sendiri. Dunia materialistis telah membuat manusia mengukur sukses dan bahagia identik dengan “kaya” yang beranonim dengan “keberadaan”, ada rumah, ada mobil, ada pakaian, ada makan dan minum, serta ada fasilitas kehidupan lainnya. Kekayaan menjadi musuh kemiskinan. Kemiskinan adalah symbol keterbelakangan, penderitaan, kesengsaraan, kesulitan, dan segala ketiadaan lainnya telah menjadi bagian hidup sebagian besar manusia.

Pikiran semacam ini telah membuat manusia berlomba-lomba bekerja dan berusaha mencari materi. Apapun dilakukan demi meraih materi. Tidak peduli apakah yang dilakukan itu benar atau salah, melanggar aturan atau tidak, bahkan kadang-kadang kawan menjadi lawan, ikatan darah keluarga ternodai, hanya demi mengejar materi. Kecenderungan seperti inilah yang salah dan harus diluruskan kembali.

Manusia yang hanya menempatkan tujuan hidup pada nilai-nilai duniawi semata, mereka akan menjadi manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang dikuasainya. Mereka ingin menambah dan menambah terus. Ini sama halnya dangan jabatan dan kekuasaan yang telah mereka dapatkan. Ketika mereka memiliki kekuasaan atau jabatan maka cenderung selalu ingin dipertahankan, adapun caranya. Rasulullah menggambarkan betapa teropsesinya manusia dengan materi keduniawian dengan sabdanya:

yang artinya: ”Seandainya anak Adam memiliki satu lembah yang penuh dengan harta, pasti dia masih ingin memiliki yang sepertinya lagi. Padahal yang memenuhi diri anak Adam itu hanyalah tanah (kubur) dan Allah menerima taubat orang yang ingin bertaubat.”
(HR. Bukhari dan Muslim dari Ibnu Abbas)

Kehidupan sejati adalah akhirat, itulah kehidupan yang sebenarnya. Sedangkan dunia adalah washilah atau sarana menggapai akhirat itu. Konsep ini juga menurut Al-Qur’an bahwa yang diutamakan adalah kehidupan akhirat, kehidupan yang sebenarnya, kehidupan yang abadi. Jika akhirat didapat – Insya Allah – dunia akan dapat, namun jika dunia didahulukan, belum tentu akhirat akan dapat. Allah SWT berfirman:

yang artinya: ”Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi.”
(QS. Al-Qashash: 77)

Untuk itu kita harus membuat skala prioritas, antara kehidupan duia dan akhirat, antara kehidupan yang hakiki dan yang sementara. Allah mengilustrasikan kehidupan dunia dengan firman-Nya:

yang artinya: ”Ketahuilah, bahwa sesungghunya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanaman-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” (QS. Al-Hadid: 20)

Selain itu kita juga harus merubah pola berpikir tentang hakekat kekayaan. Rasulullah dalam haditsnya menjelaskan kekayaan yang sebenarnya, yang harus diraih. Kekayaan yang lebih bernilai dari pada kaya materi, yakni kaya immateri seperti berupa hati/jiwa suci, keimanan yang kokoh, dan ilmu pengetahuan yang luas yang dihiasi dengan akhlak mulia. Ini adalah kekayaan hakiki yang akan mengantarkan kepada kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Kaya materi akan memunculkan banyak masalah dan konflik, namun kaya immateri atau kaya hati akan mengandung kedamaian dan rahmat bagi semua. Nabi Muhammad SAW bersabda:

yang artinya: ”Bukanlah yang disebut kaya itu karena banyak hartanya, namun yang disebut kaya adalah kaya jiwa/hati.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Walau demikian kita tetap dituntut untuk bekerja dan berusaha untuk menggapai kekayaan materi. Untuk memenuhi kewajiban kemanusiaan dan agama. Dan memang demikian sebagaimana diamanatkan dalam QS. Al-Qashash ayat 77.

C. Shalat Dhuha Memudahkan Meraih Rezeki
Materi duniawi tidak akan datang dengan sendirinya. Diperlukan usaha atau kerja yang sungguh-sungguh disertai doa dan tawakkal kepada Allah. Tiga upaya harus dilakukan oleh insane yang beriman. Kerja tanpa doa adalah kesombongan dan “kekafiran” karena tidak “butuh” restu dan pertolongan Sang Pemilik Rezeki. Doa tanpa usaha adalah sia-sia atau omong kosong. Sedangkan tawakkal adalah kepasrahan hati menerima segala ketentuan Allah setelah usaha dan doa dilakukan. Jika berhasil maka ia akan bersyukur, dan jika belum tidak lantas bersedih dan putus asa. Tapi sebaliknya ia mengevaluasi apa yang kurang dari usaha dan doanya selama ini. Jika disarakan telah berjalan dengan baik namun belum kunjung brhasil juga, hati tetap husnuzhan (berbaik sangka) kepada Allah, mungkin timmingnya yang belum tepat. Jika tiga upaya ini terpenuhi Insya Allah “kran rezeki” akan mengalir dengan baik.

Salah satu hikmah disyariatkannya shalat Dhuha adalah bahwa Allah akan memberikan kemudahan berusaha dan kelapangan rezeki. Untaian doa yang dipanjatkan kepada Allah setelah shalat Dhuha secara khusus memohon kemudahan rezeki;

Ya Allah, sesungguhnya waktu dhuha adalah waktu dhuha-Mu, keagungan adalah keagungan-Mu, keindahan adalah keindahan-Mu, kekuatan adalah kekuatan-Mu, kekuasaan adalah kekuasaan-Mu, dan penjagaan adalah penjagaan-Mu. Ya Allah, jika rezekiku masih di atas langit maka turunkanlah, jika ada di dalam bumi maka keluarkanlah, jika sukar maka mudahkanlah, jika haram maka sucikanlah, jika masih jaun maka dekatkanlah, berkat waktu dhuha-Mu, keagungan-Mu, keindahan-Mu, kekuatan-Mu, kekuasaan-Mu. Limpahkanlah kepadaku karunia yang Engkau limpahkan kepada hamba-hamba-Mu yang saleh.

Hal ini sesuai dengan penjelasan Rasulullah SAW dalam hadits Qudsi dari Abu Darda’ bahwa Allah berfirman:

yang artinya: Wahai anak Adam, ruku’lah karena Akupada awal siang (shalat Dhuha), maka Aku akan mencukupi (kebutuhan)mu di siang hari.” (HR. Tirmidzi)

D. Shalat Dhuha Menolak Kemiskinan
Salah satu hikmah shalat Dhuha adalah dapat menolak kemiskinan. Mengapa? Karena shalat Dhuha membuka pintu-pintu rezeki sebagaimana dijelaskan, dan menutup pintu-pintu kemiskinan. Antara lain:

Kemalasan. Malas membuat orang menjadi miskin. Orang yang malas bekerja tidak bakal kaya. Malas belajar bodoh. Malas berolahraga loyo. Nah, orang yang shalat Dhuha tidak akan dihinggapi kemalasan karena shalat menjadikan seseorang menjadi giat dan rajin. Rajin bekerja, belajar, berinofasi, dan lain-lain.

Sombong. Orang yang seringkali sombong dan merasa sangat PD (percaya diri) ketika berusaha. “Saya pasti berhasil, saya pasti kaya”. Orang seperti ini sangat rentan dan mudah jatuh. Jika usahanya gagal ia akan frustasi, putus asa dan uring-uringan. Nah, orang yang rajin shalat Dhuha tidak akan sombong karena ia yakin Allah dibalik semua usahanya. Pagi-pagi sebelum bekerja ia shalat Dhuha. Sebagai tanda kepasrahan diri kepada Allah meminta yang terbaik dari usaha yang akan dijalani.

Tidak bersyukur. Orang seringkali tidak bersyukur dengan apa yang ia peroleh dan rasakan. Padahal ini sangat berbahaya. Syukur adalah berterima kasih kepada Allah, wujudnya adalah menjadi orang baik, menjaga nikmat dari kerusakan dan mempergunakannya dalam rangka kebaikan dan taat kepada Allah.

Shalat Dhuha adalah wujud syukur kepada Allah. Mengawali hari dengan senang hati dan rinag, sehat badan dan rohani. Itu semua harus disyukuri dengan melaksanakan shalat Dhuha, kemudian meminta yang terbaik dari hari ini. Allah sangat enang kepada orang yang bersyukur. Allah berfirman:

yang artinya: ”Jika kamu pandai bersyukur, maka akan Aku tambah nikmat-Ku, namun jika kamu kufur (tidak mau bersyukur), maka azab-Ku amat pedih.” (QS. Ibrahim: 7)

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Sumber: Judul Buku: Bertambah Kaya, Sehat dan Cerdas dengan Shalat Dhuha
Penyusun: Ust. Abdurrahman Al-Qahthani

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on December 8, 2013, in Pustaka Islam. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: