Bertambah Kaya, Sehat dan Cerdas dengan Shalat Dhuha (Bag. 6)

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

D. Kiat Cepat Meraih Rezeki
Berikut beberapa kiat sukses agar kita mudah meraih rezeki sebagaimana yang diharapkan:

1. Usaha, Doa, dan Tawakkal
Rezeki diraih dengan kerja keras. Bukan bermalas-malasan apalagi meminta-minta, bahkan mencarinya dengan jalan yang tidak sesuai dengan ajaran agama. Seperti mencuri, korupsi, menipu, dan lain-lain.

Selain kerja keras, diperlukan pula doa. Orang yang beriman harus menyandarkan segaka urusannya kepada Allah. Mohon perlindungan dalam setiap usahanya. Mengharapkan Allah memberikan kesuksesan kepadanya, dan dijauhkan dari bencana dan marabahaya. Usaha tanpa doa adalah sombong, sedang doa tanpa usaha adalah omong kosong.

Jika usaha dan doa telah kita lakukan, maka ia harus tawakkal. Tawakkal adalah pasrah kepada Allah, siap menerima hasil yang ada. Jika sukses dari usahanya, maka ia bersyukur kepada Allah dan merasa senang. Namun jika tidak, maka ia tidak lantas kecewa dan sakit hati. Apalagi sampai putus asa. Ia harus mengevaluasi dirinya akan apa yang telah ia kerjakan. Yang salah diperbaiki, yang kurang tepat dan baik, ia sempurnakan. Insya Allah, dengan demikian, ia akan meraih sukses dikemudian hari.

Orang bijak berkata:

*** Kegagalan adalah keberhasilan yang tertunda ***

*** Tidak disebut berhasil seseorang yang tidak pernah gagal karena
tidak pernah berusaha. Namun keberhasilan adalah ketika
ia mampu bangkit setelah kegagalan ***

Mengenai keutamaan tawakkal, Rasulullah SAW bersabda:

Sungguh, seandainya kalian bertawakkal kepada Allah dengan sebenar-benar tawakkal, niscaya kalian akan diberi rezeki sebagaimana Allah memberkan rezeki kepada burung-burung. Mereka berangkat pagi-pagi dalam keadaan lapar, dan pulang sore hari dalam keadaan kenyang
(HR. Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ahmad dari Umat bin Khattab)

2. Menghindari Kejahatan dan Maksiat
Selain usaha yang tidak mengenal lelah, doa yang khusyuk, kemudian tawakkal dan berserah diri kepada Allah, dalam berusaha supaya sukses, seseorang harus meninggalkan kejahatan dan maksiat. Mengapa?

Karena maksiat menutup pintu-pintu kebaikan yang dapat mendatangkan rezeki

Karena kejahatan, membuat kita dibenci Allah dan orang-orang yang beriman. Allah tidak akan menolong hamba yang Dia benci. Dan orang yang beriman tidak akan mau membantu orang yang suka berbuat kejahatan.

Kejahatan dan maksiat menutup mata hati untuk melihat kebaikan dan selalu berbuat sesuai dengan aturan agama.

Adapun kejahatan dan maksiat yang harus dihndari antara lain:

Mencuri, merampas dan sejenisnya

Korupsi, kolusi, dan nepotisme

Menipu, tidak jujur, dan suka mengelabui orang lain dengan tipu muslihat

3. Berbuat Baik dan Berakhlak Mulia
Orang agar sukses dalam usahanya harus pula dengan akhlak yang mulia dan berperilaku baik. Tutur katanya santun, tindakannya menyenangkan orang lain. Akhlak mulia akan membantu orang meraih sukses karena:

Allah senang kepada orang yang berakhlak mulia. Maka Dia akan melimpahkan pertolongan, petunjuk, dan kesuksesan kepadanya serta dijauhkan dari bencana dan kegagalan.

Orang akan senang kepada orang yang berakhlak mulia. Maka orang akan membantunya jika ia mengalami kesulitan. Doa kebaikan dan kesuksesan pun akan terlantun dengan tulus dari mulut orang-orang yang beriman.

Dengan akhlak baik, akan memperluas perteman dan relasi, menambah peluang-peluang usaha dan kesuksesan.

Akhlak baik yang harus dibiasakan antara lain:

Tutur kata yang sopan dan santun

Pribadi yang menarik dan bersahaja

Mudah bergaul dan supel

Jujur dan dapat dipercaya

Memuliakan dan menghargai orang lain

Suka membantu sesama

Tidak sungkan membantu orang miskin dan anak yatim, dan anak terlantar

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

6. Qana’ah, Kekayaan yang Tiada Habisnya

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Qona’ah artinya merasa cukup dengan apa yang dikaruniakan oleh Allah. Sebuah sifat terpuji yang menjadi ciri khas para Nabi dan Rasul serta para Wali Allah. Bila qana’ah terpatri kuat dalam diri seorang hamba, maka sungguh, kehidupan ini begitu indah. Ia merasa bahwa apa yang diberikan oleh Allah adalah yang terbaik baginya. Ia tidak teropsesi meraih kesenangan dunia; kemewahan hidup dengan bergelimang uang, rimah mentereng, mobil mewah, saham tertanam dimana-mana, dan lain sebagainya.

Ketika seseorang ikut berlomba-lomba meraup kemewahan hidup dengan ambisi dan obsesi yang luar biasa, yang muncul dalam pikirannya adalah bagaimana meraih itu semua, meraih segala kesenangan dan kemewahan hidup, sehingga apapun ia lakukan dengan tidak memandang caranya itu baik atau buruk, melanggar atau tidak. Yang ada dalam benaknya adalah pokoknya saya harus kaya, hars punya mobil mewah, harus punya jabatan, supaya semua orang hormat dan patuh kepadanya. Ini adalah sifat rakus, yang jika obsesi dan keinginannya gagal, tidak tercapai, maka ia akan stress, tertekan dan frustasi. Hingga akhirnya, segala permasalahan hidup muncul; dari kesehatan yang terganggu, keluarga yang berantakan; anak-anak broken home, hingga ia harus mengakhiri hidupnya drengan tragis; gantung diri.

Orang yang qona’ah, akan terjauh dari sifat ambisius. Karena ia menyadari bahwa hidup yang ia jalani adalah yang terbaik menurut Allah. Ia tidak terobsesi untuk mengejar kegilaan terhadap harta benda. Baginya harta benda yang ada sudahlah cukup. Ia tidak terpengaruh hingar-bingarnya persaingan kualitas hidup yang menurutnya akan semakin menjauhkan diri dari Allah SWT. Ia memahami dengan sepenuh hati bahwa hidup hanyalah “permainan” belaka. Hidup hanya “sanda-gurau” yang banyak melalaikan manusia dari menuju kehidupan yang azali. Padahal hidup di dunia adalah sebagai jembatan menuju akhirat.

Orang yang qona’ah akan terjaub dari perasaan stress dan frustasi. Karena ia hanya menjalani kehidupannya dengan apa adanya, tidak tertarik untuk mengikuti perlombaan mengumpulkan duit. Yang ia kejar adalah sekedarnya untuk menyambung hidup, untuk supaya ia dapat menjalankan kewajiban agama dengan sebaik-baiknya, dengan tujuan utama adalah meraih ridha Allah SWT.

Hanya orang yang ambisius mengejar kemewahan dunia yang akan mengalami stress dan frustasi. Karena ia tidak siap menerima kegagalan. Ia tidak sanggup menghadapi halangan yang menerpanya. Di saat segalanya terasa mudah baginya, misalnya perusahaannya untung besar, atau ia akan memperoleh proyek milyaran rupiah, tiba-tiba terkena resesi, musibah, bangkrut, hingga duit banyak yang ada di depan mata lenyap tiba-tiba. Di saat itulah hatinya goyang, perasaannya gamang, pikirannya kacau, stress, frustasi, dan akhirnya masuk rumah sakit, lalu mati. Rasulullah menggambarkan betapa terobsesinya manusia dengan materi keduniawian dengan sabdanya:

Seandainya anak Adam memiliki satu lembah yang penuh dengan harta, pasti dia masih ingin memiliki yang sepertinya lagi. Padahal yang memenuhi diri anak Adam itu hanyalah tanah (kubur) dan Allah menerima taubat orang yang ingin bertaubat. (HR. Bukhari, Muslim dari Ibnu Abbas)

Qana’ah memang mudah diucapkan, namun sulit untuk dipraktekkan. Terlebih di zaman yang memang manusia mengidap penyakit “gila” terhadap kemewahan hidup. Sulit rasanya untuk menumbuhkan mental qana’ah pada setiap hati anggota masyarakat hanya dengan nasihat singkat. Tausyah-tausiyah yang disampaikan oleh para guru, ustadz atau kiyai juga belum cukup rasanya untuk menyadarkan masyarakat akan sikap yang mulia ini.

Dasar utamamenumbuhkan sfat qana’ah adalah keimanan yang kokoh kepada Allah SWT, serta keyakinan yang benar. Yakin bahwa Allah Maha Adil, sehingga memberikan anugerah kepada setiap makhluknya yang menurut-Nya adil. Yakin dengan seyakin-yakinnya bahwa apa yang dianugerahkan oleh Allah adalah yang terbaik saat ini. Bisa jadi – menurut Allah – kita akan kufur bila mempunyai harta banyak. Bisa jadi kita akan durhaka kepada-Nya, bila berlimpah kemewahan hidup. Atau bisa saja kita tidak amanah, bila Allah memberikan kepercayaan untuk memegang suatu kedudukan atau jabatan. Keyakinan semacam ini hanya kokoh pada hati seseorang yang benar-benar beriman dan ma’rifat kepada Allah SWT.

Untuk emunbukan sifat qana’ah dan mematrinya kuat-kuat dalam jiwa sanubari, ada beberapa hal yang harus kita upayakan. Kami sarikan dari pemikiran Syaikh Abdullah bin Abdul Hamid Al-Atsari dalam kitab “Qona’ah, Kekayaan Tiada Habisnya” sebagai berikut.

A. Memperdalam Pemahaman Ilmu Agama
Pemahaman tentang ilm agama yang mendalam merupakan factor utama untuk memperoleh harta yang tidak ternilai harganya ini. Pemahaman ilmu agama yang mendalam tentang kehidupan dunia, akan memudahkan bersikap Qona’ah dalam kehidupan. Karena agama mengajarkan bahwa hidup di dunia hanyalah sementara, hanya sebagai pencari bekal menuju akhirat. Allah SWT berfirman:

yang artinya: ”Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau. Dan sungguh kampong akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidaklah kamu memahaminya?” (QS. Al-An’am: 32)

B. Keimanan Terhadap Hari Akhirat yang Mantap
Hidup di dunia hanya sementara. Ada kehidupan yang lebih kekal dan hakiki setelah kehidupan dunia, yaitu akhirat. Keyakinan yang mantap tentang datangnya hari akhir akan memperkokoh rasa Qona’ah seseorang. Hari Akhir adalah hari ketika Allah memberikan ganjaran yang setimpal atas perbuatan hamna-hamba-Nya; yang beriman dan beramal shaleh akan masuk surga, yang ingkar dan suka berbuat onar akan masuk neraka. Orang yang beriman yakin bahwa apa yang ada di dunia ini hanyalah senda gurau yang melalaikan. Ia tidak mau hanyut ke dalam arus permainan dunia yang hanya menambah jauh dari Allah. Ia menyadari hanya keimanan dan amal shaleh yang ia bawa menghadap Rabbnya. Sedangkan harta benda, anak cucu, dan kedudukan, sama sekali tidak bermanfaat baginya di akhirat nanti. Allah berfirman:

yang artinya: ”(Yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.” (QS. Asy-Syu’ara’:88-89)

C. Ridha dengan Qadho dan Qadar Allah
Allah SWT telah menentukan kadar rezeki setiap hamba-Nya. Kebijakan yang dilakukan oleh Allah menyangkut rezeki merupakan ketentuan Allah yang didasarkan pada keadilan dan kelimuan-Nya. Ketentuan Allah mengenai rezeki memang takdir mu’alaq atau takdir yang pada realitanya tergantung dengan usaha hamba-Nya dalam meraih rezeki. Yang ulet dan rajinakan memperoleh rezeki yang banyak. Yang malas dan tidak mau berusaha keras, giat dalam bekerja, berusaha meraih peluang yang ada, namun hasilnya belum maksimal. Ibarat kata, kita brusaha satu hasilnya satu, berusaha dua hasulnya tetap satu. Saat itu kita harus yakini bahwa ini adalah takdir Allah. Allah hanya menghendaki kita memperoleh harta yang sedikit, sehingga kita dapat berlapang dada, rileks dan tidak berkeluh kesah. Miskin atau kaya adalah kehendak Allah. Makanya kita harus tetap menerima kenyataan apakah kita miskin atau kaya. Allah SWT berfirman:

yang artinya: ”Sesungguhnya Tuhanmu melapangkan rezeki kepada siapa yang Dia kehendaki dan menyempitkannya, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui lagi Maha Melihat akan hamba-hamba-Nya.” (QS. Al-Isra: 30)

D. Bersabar dan Tidak Memperturutkan Hawa Nafsu
Allah menjadikan hati manusia kecenderungan untuk menyintai keindahan hidup; harta benda, wanita, dan kedudukan. Maka bukan hal yang aneh bila ia berusaha untuk meraih kesenangan tersebut dengan beragam cara. Allah berfirman:

yang artinya: ”Manusia dihiasi dengan kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah lading. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (QS. Ali Imran: 14)

Manusia dipersilahkan untuk meraih segala keinginan hidup dengan berbagai cara selama dalam batas kewajaran. Yakni sesuai dengan syariat yang ada, tidak bertentangan dengan aturan dan hokum yang berlaku, serta demi kepentingan ibadah kepada Allah. Namun acap kali manusia tidak mampu mengontrol keinginannya. Ia sangat bernafsu untuk meraih itu semua dengan cara-cara yang seringkali tidak diperbolehkan. Karena nafsu cenderung kepada kejahatan. Firman Allah SWT:

yang artinya: ”Sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku.” (QS. Yusuf: 53)

Oleh karena itu untuk meredam nafsu yang menggebu-gebu dituntut kesabaran hati. Sabar atas keadaan yang serba kekurangan, sabar tanpa jabatan dan sabar ketika belum mendapatkan pasangan hidup atau buah hati. Hanya dengan sabar kita kita mampu meredam bisikan syetan untuk menghalal berbagai cara demi meraup apa yang didambakan; harta berlimpah; istri cantik dan kedudukan yang “basah”. Kesabaran dibutuhkan untuk dapat meredam keinginan hawa nafsu dan untuk menumbuhkan sifat qana’ah. Selama kita mampu melawan dan mengendalikan liarnya hawa nafsu, maka saat itu kita mampu untuk menutup jalan-jalan yang mengarah kepada terancamnya eksistensi qana’ah seperti ambisi, rakus, pelit, keluh kesah, dan putus asa. Karena pada hakekatnya qana’ah menuntun seseorang bersikap lapang dada, zuhud, ridha, dan wara’.

• • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • • •

Sumber: Judul Buku: Bertambah Kaya, Sehat dan Cerdas dengan Shalat Dhuha
Penyusun: Ust. Abdurrahman Al-Qahthani

About Iwan Lemabang

Aku hanya manusia biasa yang tak luput dari salah dan dosa.

Posted on December 8, 2013, in Pustaka Islam and tagged . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: